BATANG – Kasus dugaan gangguan kesehatan massal yang menimpa ratusan warga di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, pasca-mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), kini memasuki babak baru. Pemerintah Kabupaten Batang bersama Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat.

Insiden ini bermula pada 22 September 2026, ketika para penerima manfaat MBG di sejumlah sekolah di wilayah Bawang mengalami gejala mual, pusing, muntah, diare, hingga lemas. Jumlah warga terdampak terus bertambah karena sebagian makanan dilaporkan dibawa pulang dan dikonsumsi oleh keluarga siswa.

Hingga 24 September 2026, data mencatat sebanyak 411 orang mengalami keluhan kesehatan, dengan sekitar 170 orang di antaranya masih menjalani perawatan intensif di RSUD Limpung, Puskesmas Subah, dan RSUD Kalisari. Pemerintah daerah telah menyiagakan fasilitas kesehatan untuk mengantisipasi lonjakan pasien.

Tindakan Tegas BGN
Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN, Ketut Sumedana, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah memberikan sanksi administratif berupa suspensi kategori berat terhadap SPPG Bawang. Sebagai konsekuensi, kepala SPPG tersebut telah dicopot dari jabatannya.

"Kami sudah melakukan suspensi kategori berat dan mencopot Kepala SPPG Bawang. Langkah ini adalah bentuk mitigasi sementara sembari proses investigasi mendalam dilakukan," ujar Ketut, Rabu (24/9/2026).

Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi langsung dengan Kepala BGN, Sudaryono, untuk memastikan audit menyeluruh dilakukan terhadap seluruh rantai operasional SPPG. Menurut Faiz, penutupan permanen tetap menjadi opsi jika hasil evaluasi menunjukkan ketidaklayakan operasional.

Dugaan Pelanggaran SOP
Investigasi awal oleh KPPG Semarang menemukan adanya indikasi pelanggaran Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam pengolahan makanan. Kepala KPPG Semarang, Hadiriajaya, menjelaskan bahwa rekaman CCTV menunjukkan proses pengolahan makanan telah dimulai sejak pukul 19.30 WIB pada malam sebelum distribusi, padahal seharusnya dilakukan pada hari yang sama.

Selain itu, ditemukan praktik pemanasan ulang bahan makanan pada dini hari serta kondisi kebersihan fasilitas yang memerlukan perhatian khusus. Meski demikian, pihak BGN menegaskan bahwa temuan ini belum menjadi kesimpulan akhir penyebab gangguan kesehatan.

"Kami tidak ingin berspekulasi. Saat ini, tim sedang melakukan pemeriksaan komprehensif mulai dari bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi," tegas Ketut.