JAKARTA – Pernyataan Purbaya Yudhi Sadewa mengenai pengalamannya saat menyampaikan kondisi ekonomi yang dinilai kurang baik kepada Presiden Prabowo Subianto kembali memicu diskusi publik terkait budaya "Asal Bapak Senang" (ABS) di lingkungan pemerintahan. Namun, pakar menilai isu ini harus dilihat secara utuh agar tidak terjebak pada generalisasi.
Dalam siniar bersama Putri Tanjung yang dikutip Suara.com pada 23 Oktober 2026, Purbaya menceritakan dinamika komunikasinya dengan Presiden. "Pejabat kalau lapor ke bosnya, ke Presiden misalnya. Saya pernah dipanggil, saya bilang enggak bagus pak, jelek pak. Dia (Presiden) enggak suka sama saya," ujar Purbaya.
Meski demikian, Purbaya menegaskan bahwa penyampaian kondisi riil tersebut adalah langkah krusial untuk perbaikan ekonomi. Ia menambahkan bahwa Presiden pada akhirnya menaruh kepercayaan padanya setelah memahami urgensi data tersebut.
Pengakuan Prabowo Terhadap Budaya ABS
Isu budaya ABS sebenarnya bukan hal baru bagi Presiden Prabowo. Dalam sesi tanya jawab di Hambalang, Bogor, pada 20 Maret 2026 yang diberitakan RRI, Presiden secara terbuka mengakui bahwa laporan yang hanya bertujuan menyenangkan atasan merupakan tantangan serius dalam birokrasi.
"Budaya ABS ini, asal bapak senang, asal ibu senang, laporan palsu ini, sudah membudaya. Saya kira di semua institusi, ini bagian dari masalah kami," ungkap Prabowo.
Ia menegaskan bahwa informasi yang tidak akurat sangat berbahaya karena dapat berujung pada pengambilan keputusan yang keliru. Oleh karena itu, Presiden mengaku rutin memantau kritik dari berbagai kanal, termasuk siniar, serta menerapkan verifikasi ketat terhadap laporan yang diberikan para pejabat.
"Saya kejar dia, ini laporan benar enggak?" tegas Prabowo saat menyinggung proses verifikasi data, seperti pada laporan kinerja Danantara.
Pentingnya Objektivitas dalam Laporan Ekonomi